PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI PHT PADI SAWAH DENGAN MEMANFAATKAN AGENSIA HAYATI DALAM UPAYA PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KELURAHAN SEMARANG KOTA BENGKULU


Penulis : Refita Rahmadini (E1D021004)


 PENDAHULUAN

Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses di mana Pemerintah Daerah dan masyarakat nya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan sektor swasta untuk  menciptakan  suatu  lapangan  kerja  baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam suatu wilayah. Pada tahap awal pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, pembangunan pertanian merupakan andalan utama, karena pembangunan pertanian dapat diartikan sebagai suatu proses yang ditujukan untuk selalu menambah produksi per kapita, sekaligus dapat mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha tiap-tiap petani dengan jalan menambah modal dan keterampilan untuk memperbesar turut campur tangannya manusia di dalam perkembangan tumbuh-tumbuhan dan hewan (Nurhab, 2019).

Padi merupakan komoditas strategis yang terus mendapat perhatian Pemerintah karena peranannya dalam menunjang ketahanan pangan yang dapat mempengaruhi  kondisi ekonomi, sosial dan politik masyarakat secara luas, namun produksi padi bersifat fluktuatif, salah satunya terlihat dari produktivitas padi yang terkadang mengalami  penurunan. Untuk itu diperlukan  usaha-usaha  yang  maksimal dalam peningkatan produksi pertanian tersebut (Andriani, 2018). Salah-satu bentuk teknologi di sektor pertanian untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan cara pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) padi sawah ramah lingkungan yang merupakan salah satu solusi untuk mengurangi risiko pengendalian secara kimiawi yang cenderung berlebihan (Nawang Wulan, 2018).

Berdasarkan uraian yang telah di jelaskan maka pada penulisan artikel ini akan membahas penerapan teknologi PHT padi sawah ramah lingkungan dalam pengendalian hayati yang memanfaatkan agensia hayati dan dapat diterapkan dalam kegiatan usahatani padi sebagai upaya pembangunan pertanian di Kelurahan Semarang Kota Bengkulu.

 

METODE PENULISAN

Dalam artikel ini, penulis menggunakan metode penulisan berupa hasil dari pengamatan yang telah dilakukan, kemudian dituangkan menggunakan kata-kata dan bahasa penulis sendiri, dan dengan tambahan beberapa sumber dari jurnal terpercaya maupun sumber-sumber lainnya. Selain itu penulisan artikel ini dibuat berdasarkan fakta dan dokumentasi yang dilakukan oleh penulis. 

 

PEMBAHASAN 

 Agensia hayati merupakan musuh alami yang digunakan sebagai sarana (agens) dalam pengendalian hayati berupa hama dan penyakit pada tanaman. Pemanfaatan agensia hayati terbukti mampu menekan perkembangan penyakit hawar, daun bakteri, blas, penggerek batang dan wereng batang coklat. Kelurahan Semarang merupakan salah-satu kelurahan yang memiliki lahan sawah terluas di Kota Bengkulu, yang mana para petani biasanya menamam padi secara monokultur sebanyak 2-3 kali dalam satu tahun, selain itu biasanya petani melakukan pengendalian hama dan penyakit hanya menggunakan pestisida kimia sintetik yang dilakukan secara berkala antara 1-2 minggu tergantung berat atau ringannya serangan.

Dalam upaya memperkenalkan petani dengan pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan maka dilaksanakan display PHT tanaman padi sawah secara hayati. Display ini bertujuan sebagai suatu inovasi teknologi PHT dengan pengunaan agensia hayati. Dalam kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan petani mengenai PHT tanaman padi sawah yang ramah lingkungan dan dapat diterapkan dalam kegiatan usahatani padi.

 

Pelaksanaan Introduksi Inovasi Agensia Hayati



 Pada proses introduksi inovasi dilakukan melalui 2 kegiatan yaitu demplot dan FFD (farmer field day). Demplot dilakukan untuk memberikan informasi kepada petani mengenai agensia hayati dalam bentuk praktik budidaya secara langsung pada tanaman padi yang dikelola oleh petani. Sedangkan FFD sebagai kegiatan pelengkap demplot dilakukan untuk memberikan informasi mengenai agens hayati dalam bentuk penjelasan materi dan diskusi antara petani dengan para stakeholder. Secara singkat demplot ini dalam bentuk praktik, sedangkan FFD ini dalam bentuk penjelasan teorinya.

Pelaksanaan FFD sangat diperlukan karena tidak adanya sosialisasi pendahuluan pada saat awal kegiatan demplot sehingga petani perlu dibekali informasi mengenai inovasi agens hayati dari segi teori agar lebih paham. Penyampaian informasi kepada petani didukung dengan adanya informasi tambahan dari petani penggarap dengan memberikan pengalamannya dalam mengelola lahan demplot kepada para petani agar lebih dimengerti oleh petani lainnya. Dengan adanya FFD ini bisa memberikan metode yang cukup efektif bagi petani untuk mendapatkan informasi mengenai agens hayati dan petani juga mendapatkan banyak informasi yang tidak di dapatkan dari demplot.

 

Persepsi Petani Terhadap Sifat Inovasi Teknologi PHT Padi Sawah Dengan Agensia Hayati




Penerapan teknologi PHT padi sawah dengan agensia hayati sesuai dengan nilai budaya petani, dan memberikan keuntungan, serta mudah diamati tetapi cukup rumit untuk diterapkan dan di uji cobakan oleh petani. PHT padi sawah dengan memanfaatkan agensia hayati dinilai  petani telah sesuai dengan nilai budaya masyarakat. Karena pada bahan pendukung perbanyakan agensia hayati seperti beras, jagung atau air kelapa merupakan bahan yang halal dan mudah diperoleh, selain itu agensia hayati dapat dipergunakan petani sebagai pengendali hama dan penyakit pada usahataninya. Sehingga keberadaan agensia hayati dapat menjadi sarana yang dibutuhkan oleh petani.

Penerapan PHT padi sawah dengan menggunakan agensia hayati dinilai petani mudah diamati secara visual. Petani dapat menilai tingkat serangan hama pada pertanaman padi yang dikendalikan secara hayati sehingga dapat membandingkan dengan pertanaman padi yang dikendalikan menggunakan bahan kimia sintetik. Hama dan penyakit utama yang teridentifikasi menyerang tanaman padi biasanya berupa hama penggerek batang padi, penyakit hawar daun bakteri dan penyakit blas leher malai. Walaupun dapat memberikan keuntungan secara ekonomi dan mudah untuk diamati, petani menilai PHT padi sawah dengan memanfaatkan agensia hayati cukup rumit untuk diterapkan dan diujicobakan.

Hal ini terlihat dari persentase jumlah petani yang menyatakan PHT dengan memanfaatkan agensia hayati pada kategori mudah dan rumit. Jumlah petani yang menyatakan teknologi ini mudah diterapkan (37,50%) hampir sama dengan jumlah petani yang menyatakan bahwa teknologi ini rumit untuk diterapkan (34,37%). Kondisi yang sama juga terjadi pada persepsi petani terhadap sifat mudah diujicobakan. Jumlah petani yang menyatakan teknologi ini mudah diujicobakan (53,12%) hampir sama dengan jumlah petani yang menyatakan bahwa teknologi ini rumit untuk diujicobakan (46,87%).

Hampir semua petani belum pernah melakukan pengendalian hayati apalagi membuat agensia hayati. Petani mengaku tidak memiliki keterampilan yang memadai untuk membuat agensia hayati sendiri sehingga risiko kegagalan akan lebih besar. Petani juga kurang yakin terhadap agensia hayati yang dijual di pasar bebas karena tidak dapat menjamin keefektifannya. Banyaknya tahapan yang harus dilakukan dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan agensia hayati dinilai petani kurang efektif, selain itu terdapat keraguan petani untuk menggunakan agens hayati pada usahataninya, 

 

KESIMPULAN

Petani padi sawah di Kelurahan Semarang Kota Bengkulu melakukan pelaksanaan introduksi inovasi agens hayati melalui kegiatan demplot dan FFD. Pelaksanaan demplot meliputi kegiatan budidaya dari persiapan lahan sampai panen dan terdapat perbedaan pelaksanaan antara budidaya padi agens hayati dengan budidaya konvensional antara lain persiapan benih, pemupukan, dan pengendalian OPT, dan petani menilai bahwa teknologi PHT padi sawah dengan agensia hayati sesuai dengan nilai budaya petani, memberikan keuntungan dan mudah diamati tetapi cukup rumit untuk diterapkan dan diujicobakan, sehingga membuat petani tidak mengerti tentang teknik budidaya yang diterapkan serta tidak menemukan perbedaan hasil panen dan penampilan fisik dari padi yang di budidayakan menggunakan agensia hayati dengan yang di budidayakan secara konvensional.

 

SARAN

Sebaiknya dalam pemanfaatan agensia hayati ini sangat perlu dilakukan pelatihan dan pendampingan secara intensif pada kelompok tani agar dapat membuat agensia hayati secara mandiri. Ketersediaan agensia hayati siap pakai di lapangan akan mendorong pengendalian hayati secara berkelanjutan dan memudahkan petani sebagai upaya pembangunan pertania.

 

DAFTAR PUSTAKA


Nurhab, B. (2019). Pergeseran Kontribusi Sektor Pertanian Di Kota Bengkulu Dengan Menggunakan Alat Analisa Shift-Share Esteban-Marquillas Dan Location Quotient. JBE (Jurnal Bingkai Ekonomi), 4(1), 26-34.

Andriani, E., & Lubis, M. E. (2018). Pengaruh Penerapan Sistem Tanam Legowo Terhadap Budidaya Padi Sawah Di Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. AGRITEPA: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, 5(2), 60-74.

Nawang Wulan, N. (2018). Penggunaan Agensia  Hayati Pada Budidaya Padi (Oryza sativa) Organik Putih Di Desa Lombok Kulon (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Jember).

Alawiyah, F. M., & Cahyono, E. D. (2018). Persepsi petani terhadap introduksi inovasi agens hayati melalui kombinasi media demplot dan FFD. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis2(1), 19-28.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS MANFAAT PEMBANGUNAN BENDUNGAN DAN IRIGASI TERHADAP KETERSEDIAAN AIR SAWAH BAGI PETANI DI DESA SUNGAI IPUH KABUPATEN MUKOMUKO

Teknologi Mesin Pertanian Rice Transplanter Inovasi Pembagunan Pertanian Di Desa Tapak Siring Kecamatan Sukau Kabupaten Lampung barat