INOVASI MESIN PASCA PANEN KOPI SEBAGAI PRODUK USAHA DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KABUPATEN KEPAHIANG PROVINSI BENGKULU
Penulis : Edo Putra Pratama (E1D021061)
PENDAHULUAN
Kopi merupakan salah satu komoditas penting dalam
perdagangan dunia yang melibatkan beberapa negara produsen dan banyak negara
konsumen. Data Direktorat Jenderal Perkebunan, areal perkebunan kopi di
Indonesia pada tahun 2015 mencapai lebih dari 1,24 juta hektar, 933 hektar
perkebunan robusta dan 307 hektar perkebunan arabika dengan total produksi
sebesar 685 ton dimana 90% diantaranya yaitu areal perkebunan kopi rakyat. Laju
perkembangan areal kopi di Indonesia rata-rata mencapai sebesar 2,11 % per
tahun (Perkebunan, 2014) Menurut data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia
(AEKI), para petani Indonesia bersama dengan kementerian-kementerian terkait
berencana untuk memperluas perkebunan-perkebunan kopi Indonesia, sambil
meremajakan perkebunanperkebunan lama melalui program intensifikasi. Dengan
meningkatkan luas perkebunan, produksi kopi Indonesia dalam 10 tahun ke depan ditargetkan
untuk mencapai antara 900 ribu ton sampai 1,2 juta ton per tahun (Eksportir
& Indonesia, 2014).
Provinsi Bengkulu adalah salah satu wilayah
penghasil kopi di Indonesia, dan dijuluki sebagai “Segitiga Emas” daerah
penghasil kopi di Indonesia selain Sumatera Selatan dan Lampung. Maka hal
tersebut menjadikan Bengkulu sebagai daerah yang berpotensi besar dalam
pengelolaan sumber daya lokal, terutama komoditas kopi yang merupakan komoditas
unggulan selain kelapa sawit dan karet. Hampir keseluruhan komoditas kopi
robusta di Provinsi Bengkulu diusahakan di dataran tinggi, yang meliputi
Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong. Total luas areal tanam kopi
robusta di Provinsi Bengkulu pada tahun 2018 sebesar 82242 ha dan produksi
sebesar 55045 ton/th. Sedangkan di daerah Kabupaten Kepahiang, luas areal tanam
kopi robusta pada tahun 2018 sebesar 24678 ha dan produksi sebesar 19199
ton/th, dan Kabupaten Rejang Lebong dengan luas areal tanam pada tahun 2018
sebesar 23310 ha dan produksi sebesar 14939 ton/th (BPS Provinsi Bengkulu,
2019).
Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu wilayah di
Provinsi Bengkulu sebagai produsen penghasil kopi terbesar selain dari
Kabupaten Rejang Lebong. Kepahiang terletak di dataran tinggi pegunungan Bukit
Barisan, dengan luas wilayah yaitu sekitar 66.500 hektar. Secara geografis,
Kabupaten Kepahiang yang terletak di dataran tinggi yang mempunyai iklim yang
sejuk dengan suhu udara rata-rata tidak lebih dari 25ºC dan curah hujan yang
tinggi. Dengan adanya dukungan kondisi dan luas wilayah di Kabupaten Kepahiang
terhadap sektor pertanian terutama untuk komoditas perkebunan. Kopi adalah
salah satu komoditas unggulan daerah dari Kabupaten Kepahiang dan rata-rata
perkebunan kopi di Kabupaten Kepahiang sebagian besar perkebunan rakyat.
Perkembangan produksi kopi yang cukup pesat tersebut
perlu didukung dengan kesiapan teknologi dan sarana pascapanen yang cocok untuk
kondisi petani agar mereka mampu menghasilkan biji kopi dengan mutu seperti
yang dipersyaratkan oleh Standard Nasional Indonesia. Keberhasilan pengembangan
teknologi pascapanen tergantung dari keberhasilan sistem inovasi teknologi dan
pendampingan (Stathers et al., 2013). Adanya jaminan mutu yang pasti,
ketersediaan dalam jumlah yang cukup dan pasokan yang tepat waktu serta
keberlanjutan merupakan beberapa persyaratan yang dibutuhkan agar biji kopi
rakyat dapat dipasarkan pada tingkat harga yang lebih menguntungkan. Untuk
memenuhi persyaratan tersebut penanganan pascapanen kopi rakyat harus dilakukan
dengan tepat waktu, tepat cara dan tepat jumlah seperti halnya produk pertanian
yang lain.
Pascapanen hasil pertanian adalah semua kegiatan yang dilakukan sejak proses penanganan hasil pertanian sampai dengan proses yang menghasilkan produk setengah jadi (produk antara/intermediate). Penanganan pascapanen bertujuan untuk menurunkan kehilangan hasil, menekan tingkat kerusakan, dan meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas untuk memperoleh nilai tambah (Setyono, 2010). Penanganan pascapanen yang tidak baik akan menyebabkan terjadinya kehilangan hasil, baik bobot maupun kualitas produk yang dihasilkan, terutama untuk panen musim hujan (Firmansyah, et al., 2007). Sebagai contoh, salah satu penanganan pasca panen yang sangat dibutuhkan petani kopi adalah pengeringan (Sary, 2016).
METODE
PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pandangan dari penulis kemudian dituangkan menggunakan kata-kata dan bahasa dari penulis sendiri. Selain itu juga bersumber dari informasi yang didapatkan penulis melalui jurnal atau artikel di internet.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Produksi Mesin-Mesin Teknologi Tepat Guna Pascapanen Kopi
Buah kopi hasil panen perlu segera diproses menjadi
bentuk akhir yang lebih stabil agar amanuntuk disimpan dalam jangka waktu
tertentu. Untuk itu diperlukan suatu acuan sebagai pegangan bagi petani
dan/atau pengolah dalam menghasilkan produk yang dipersyaratkan pasar. Salah
satu proses teknologi dalam produksi kopi adalah teknologi pascapanen.
Teknologi pascapanen mempunyai peranan penting dalam peningkatan nilai tambah
komoditas pertanian melalui proses pengolahan hasil pertanian. Penerapan
teknologi pascapanen secara baik membuat usaha tani menjadi lebih efisien dari
sisi mikro dan dapat merupakan peluang peningkatan produksi dengan mengurangi
tingkat kehilangan hasil pada saat panen maupun rendahnya mutu hasil.
Pembangunan pertanian dan pedesaan
di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu yang
telah diupayakan pemerintah dengan penerapan teknologi-teknologi seperti; Pullper
machine, Huller machine, Mesin cuci dan sortir biji kopi.
Pemanfaatan dan Penguasaan teknologi pertanian berkaitan secara
langsung dengan peningkatan produktivitas, menekan biaya produksi, dan
penciptaan nilai tambah.
Teknologi tepat guna yang dikembangkan membuat
pekerjaan petani kopi semakin mudah serta mampu meningkatkan nilai ekonomi.
Selain itu TTG yang dikembangkan juga disesuaikan dengan aspek-aspek
lingkungan, berkaitan erat dengan kondisi lokal, kebudayaan, sosial, politik,
dan ekonomi masyarakat.
Mesin-mesin pascapanen kopi produk Pusat Produksi Mesin-mesin Teknologi Tepat Guna Pascapanen Kopi
Teknologi tepat guna pascapanen kopi terdiri dari dua model, yaitu type pulper portable
dengan mata bajak dan pulper mobile.
Tipe pulper portable dengan mata bajak mempunyai keunggulan dalam
mobilisasi dan dapat berfungsi ganda sebagai
trantor untuk membajak lahan kopi, sedangkan type pulper mobile mempunyai keunggulan
dalam mobilisasi. Jika kita bandingkan dengan konstruksi mesin pengupas
kulit buah kopi yang beredar di
pasaran, mesin pulper yang dihasilkan
oleh Pusat Produksi Mesin-mesin Teknologi Tepat Guna Pascapanen Kopi Politeknik Negeri
Lhokseumawe mempunyai banyak keunggulan, baik dari konstruksi maupun
fungsionalnya.
Pengupasan kulit biji kopi (huller machine) bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kulit tanduk sehingga
menghasilkan biji kopi beras. Mesin huller
produksi Pusat Produksi
Mesin-mesin Teknologi Tepat Guna Pascapanen Kopi mempunyai keunggulan dalam mobilisasi sehingga
proses pengupasan akan lebih efektif dan efesien.
Terdapat dua tipe mesin huller yang diproduksi yaitu tipe huler mobile dan huller multi fungsi. Huller mobile mempunyai keungulan dalam
mobilasi dan huller multi fungsi
mempunyai keunggulan pada waktu proses. Huller
multi fungsi meru- pakan mesin yang mengintegrasikan proses hulling dan proses sortasi biji kopi.
Ada dua type mesin cuci biji kopi yaitu type batch dan type batch mobile.
Mesin sortir biji kopi yang diproduksi oleh
Pusat Produksi Mesin-mesin TTG Pascapanen
Kopi Politeknik Negeri Lhokseumawe menyortir besaran dimensi dari biji kopi dengan tiga tingkatan, yaitu besar, sedang dan kecil, sesuai dengan ketentuan SNI 01-2907-2008. Mesin sortir biji kopi mempunyai
kapasitas sortir 100-200
kg per jam. Mesin sortir biji kopi yang diproduksi menggunakan mekanisme getar yang dihasilkan
dari bantul yang unbalance.
KESIMPULAN
Teknologi Tepat Guna Pascapanen Kopi telah melakukan
inovasi pada mesin teknologi pascapanen kopi. Mesin-mesin TTG tersebut
mempunyai keunggulan dari konstruksi dan mobilisasi dibandingkan produk
yang telah beredar dipasaran selama ini. Mesin teknologi pascapanen kopi yang diproduksi telah disosialisasikan kepada petani kopi, khususnya petani kopi di wilayah provinsi
Bengkulu kabupaten kepahiang. Pemasaran dilakukan
melalui toko online,
website, dan pameran di showroom. Salah satu upaya pemerintah di
Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu dengan inovasi / transformasi pengggunaan
teknologi-teknologi pertanian pada kopi yang sangat membantu peningkatan
produktivitas petani secara efisien dan efektif..
DAFTAR PUSTAKA
Perkebunan, D. J. (2014).
Statistik
Perkebunan
Indonesia:
Kopi
2013-
2015.Kementerian Pertanian.
Jakarta.
Stathers, T., Lamboll,
R., & Mvumi, B. (2013).
Post-harvest agriculture in
a changing
climate. Rural 21:
The International Journal for Rural Development, 47(4), 12–14.
Setyono, A. (2010).
Perbaikan teknologi pascapanen dalam upaya menekan
kehilangan
hasil padi. Pengembangan Inovasi Pertanian, 3(3), 212–226.
Firmansyah, I.U., M. Aqil, dan Y. S. (2007). Penanganan Pascapanen Jagung; Teknik
Produksi dan Pengembangan. Puslitbang Tanaman Pangan.
Komentar
Posting Komentar