PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENYULUH DAN PETANI DI KABUPATEN MUKOMUKO DALAM UPAYA PEMBANGUNAN PERTANIAN
Oktober 14, 2022
Penulis : Ahmadia Gusti Fahrezi
PENDAHULUAN
Penyuluh merupakan ujung tombak pembangunan
pertanian di Indonesia, yang dapat diartikan bahwa salah satu keberhasilan pertanian
berada di tangan penyuluh karena penyuluh dapat berinteraksi langsung dengan
petani, sehingga program-program pertanian dapat langsung diterapkan atau
disampaikan kepada petani. Di samping menyampaikan program-program pembangunan, penyuluh juga mendorong petani
untuk lebih maju, mempunyai wawasan yang luas dan berorientasi pada pasar. Hal
ini berkaitan dengan peran penyuluh pertanian
sebagai motivator. Penyuluh
pertanian juga berperan sebagai inovator, fasilitator, konsultan, dan komunikator (Mardikanto,
2009).
Mengingat
pentingnya peran penyuluh kepada petani, penyuluh dituntut untuk
mempunyai kompetensi dan
kinerja yang tinggi. Namun
demikian masih banyak penyuluh yang mempunyai kompetensi rendah (Marliati et
al.2008). Rendahnya kompetensi penyuluh menghasilkan kinerja
yang rendah pula, karena
kompetensi berpengaruh terhadap kinerja
penyuluh pertanian (Kusmiati
et al, 2010;
Hidayat 2009; Gilley
dan Eggland 1989).
Faktor
yang mempengaruhi kinerja
salah satunya adalah
kurangnya program pendidikan
dan pelatihan yang
sesuai untuk peningkatan
kapasitas bagi penyuluh
(Turere 2013).Kendala
keterbatasan
penyelenggaraan pelatihan bagi
penyuluh ini, di
antaranya dapat ditanggulangi dengan
pemenuhan kebutuhan informasi
yang berbasis internet, meskipun pemerintah
melalui Permentan No 61 tahun
2008 telah mendorong
penyuluh untuk meningkatkan kinerja revitalisasi penyuluhan pertanian.
Revitalisasi penyuluhan pertanian yang sedang diupayakan berupa perbaikan kegiatan
penyuluhan melalui pendidikan
dan pelatihan.
Seiring dengan perubahan global, dimana sektor
pertanian mengalami dinamika yang luar biasa. Tantangan kegiatan penyuluhan di
lapangan semakin berat, sehingga jika penyuluhan pertanian sebagai penyedia
public goods tidak bisa berperan dengan baik akan semakin ditinggalkan oleh
penguna tradisionalnya. Pada saat ini penyuluh lapangan swasta yang juga
merupakan pelayan teknis perusahaan sarana produksi nasional dan multinasional
juga telah merambah ke desa - desa. Dalam era baru pertanian, penyuluh lapangan
dituntut memiliki fungsi paling tidak dalam tiga hal yaitu transfer teknologi
(technology transfer), fasilitasi (facilitation) dan penasehat (advisory work).
Untuk mendukung fungsi-fungsi tersebut, penyuluh pertanian lapangan mestinya juga
menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
PEMBAHASAN
Teknologi
informasi akan semakin penting peranannya dalam mendukung pembangunan pertanian
yang berkelanjutan. Meskipun biaya yang dibutuhkan untuk membangun infrastuktur
Nasional TIK besar, tetapi kerugian bila tidak melakukannya akan jauh lebih
besar lagi. Selain memberikan informasi, teknologi informasi juga dapat
membantu jalannya penyuluhan pertanian. Karena pada zaman sekarang tidak ada
kegiatan yang tidak menggunakan teknologi walaupun teknologi hanya sekedar
mencari informasi untuk diri sendiri ataupun mencari informasi yang akan
disampaikan kepada masyarakat.
Sejak
menggunakan teknologi sebagai media informasi bagi petani, aktivitas penyuluhan
pertanian menjadi berubah. Selain dari informasi yang disampaikan menarik yang
dapat menumbuhkan motivasi juga kegiatan banyak dilakukan langsung oleh petani
itu sendiri sehingga menimbulkan kedisiplinan terhadap diri petani itu
sendiri.Kita perlu menentukan prioritas penerapan tekologi informasi di bidang
pertanian agar memberikan hasil yang maksimal. Kita juga perlu membangun
kemampuan untuk mengadaptasi, memelihara, melakukan penyesuaian dan
mengkonfigurasi ulang solusi TIK yang ada agar menjawab kebutuhan di bidang
pertanian.
Seiring
dengan peningkatan kualitas sumber daya petani dan pelaku pertanian serta
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta pertimbangan efektivitas dan
efisiensi penyeberluasan informasi, salah satu solusi ditawarkan dalam rangka
mengatasi persoalan transfer teknologi dan pengetahuan pertanian adalah
pemanfaatan information and communication technologies (ICTs) yang untuk
penyuluhan pertanian dikenal dengan sebutan "cyber extension" yang
merupakan penggunaan jaringan on-line, computer dan digital interactive
multimedia untuk memfasilitasi diseminasi teknologi pertanian. Model ini
dipandang sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi
petani, petugas penyuluh, peneliti baik di lembaga penelitian maupun maupun di
universitas serta para manajer penyuluhan. Selain menggunakan "cyber
extension" penyuluhan pertanian saat ini juga menggunakan multiple
information system bagi masyarakat pedesaan untuk mendukung usaha dan bisnis
pertanian serta perbaikan ekonomi rumah tangga pedesaan.
Hal ini lah yang sedang di terapkan di mukomuko yang diharapkan akan membuat perubahan dalam rangka peningkatan kapasitas penyuluh pertanian. Kegiatan seperti ini guna melancarkan arus komunikasi dari lembaga peneliti pertanian kepada penyuluh dan petani. Akan tetapi untuk sekarang komponen yang digunakan masih sangat serderhana belum maksimal karena masih menggunakan speedy yang kedepannya akan ditingkatkan lagi dengan melengkapi speedy ada telekoference dan dengan melakukan Kerjasama dengan pihak Telkom.
KESIMPULAN
Begitu cepatnya arus perubahan dan tingginya teknologi saat ini, sumber informasi yang didapatkan tidak hanya dari media cetak ataupun audio visual, peranan teknologi informasi melalui internet adalah salah satu media sarana informasi dan pembelajaran bagi petani dan penyuluh untuk lebih meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya agar pembangunan pertanian dapat seperti apa yang diharapkan. Teknologi Informasi harus dikuasai, sebagai salah satu bentuk pengembangan diri penyuluh dalam menghadapi tantangan di era globalisasi dan era informasi komunikasi saat ini untuk menjadi Penyuluh yang Kompeten dan professional dalam menjawab tantangan pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Kusmiati, Maryani, Kusnadi. 2010.
Kinerja penyuluh pertanian
PNS dalam melaksanakan
tupoksi di Kabupaten
Bogor (Kasus di
BP3K Cibungbulang). Jurnal
Penyuluhan Pertanian. 5(1): 87-103.
Gilley WJ, Eggland SA. 1989. Principles of Human Resources Development. Toronto. Canada: Addison Wesley Publishing Company, Inc.
Turere
VN. 2013. Pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap peningkatan
kinerja karyawan pada
Balai Pelatihan Teknis Pertanian Kalasey. Jurnal EMBA. 1 (3): 10-19.
Komentar
Posting Komentar