PEMBANGUNAN PERTANIAN KONVERSI LAHAN SAWAH MENJADI KEBUN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN KEDURANG KABUPATEN BENGKULU SELATAN

Penulis : Annisa Sahda Fazrina (E1D021057)


PENDAHULUAN

Permasalahan utama pembangunan pertanian di Indonesia adalah yaitu semakin berkurangnya lahan-lahan pertanian produktif terutama lahan sawah karena dikonversi menjadi lahan pertanian non sawah dan non pertanian, kemudian penurunan kualitas sumberdaya lahan akibat pengelolaan yang kurang baik, dan kompetisi penggunaan dan fragmentasi lahan. Kompetisi penggunaan lahan terkait dengan pemenuhan kebutuhan akan sarana dan prasarana, serta bahan bakar sedangkan fragmentasi lahan terjadi karena kondisi sosial ekonomi petani, kemiskinan akan memaksa petani melepas sebagian kepemilikan lahannya dan adanya sistem pewarisan yang berdampak pada skala kepemilikan lahan sawah yang semakin kecil.

Berkaitan dengan aspek ketersediaan bahan pangan, kelangsungan proses produksi pangan dengan pelaku utama petani, memerlukan ketersediaan lahan secara berkelanjutan dalam jumlah dan mutu yang memadai. Lahan pertanian selain sebagai faktor kunci dalam sistem produksi pangan, juga memiliki sifat yang unik karena fungsinya yang tidak dapat tergantikan oleh sumberdaya. Oleh karenanya ketersediaan lahan pertanian yang berkelanjutan merupakan hal yang sangat mendasar untuk menciptakan ketahanan pangan nasional yang lestari dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. Luas lahan sawah di Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2010 mencapai 23.936 ha,  selanjutnya pada tahun 2011 turun menjadi 21.002 hektar atau terjadi penurunan seluas 2.934 hektar. Pada tahun 2012 kembali terjadi penurunan seluas 927 hektar, perubahan luas lahan sawah ini sebagian besar akibat dikonversi menjadi lahan perkebunan karet dan kelapa sawit serta penggunaan non pertanian. Keputusan menanam kelapa sawit yang ditempuh dengan jalan mengkonversi lahan sawah merupakan suatu keputusan revolusioner yang ditempuh petani. Usahatani ini bukannya tanpa resiko, sebagai bidang usaha baru kesalahan dalam pengelolaan seperti pemilihan bibit, teknologi budidaya bukannya memberikan keuntungan lebih tinggi tapi tidak menghasilkan apa-apa karena tanaman kelapa sawit mereka produktivitasnya rendah bahkan tidak berproduksi sama sekali. Namun dengan pengalaman yang cukup lama dalam usahatani padi dengan berbagai kendala yang dihadapi, mungkin resiko yang dihadapi lebih rendah pada usahatani kelapa sawit. 

Pada tulisan ini bertujuan menganalisa fenomena konversi lahan sawah menjadi kebun kelapa sawit yang terjadi di Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan secara ekonomi, sehingga diperoleh nilai manfaat (land rent) yang optimal dari pengelolaan komoditas pada lahan tersebut.


METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (casestudy). Case study. Selain itu, tulisan ini bersumber dari informasi baik dari narasumber maupun sember-sumber lainnya. narasumber dari penulisan ini merupakan masyarakat dari Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu


PEMBAHASAN

Penurunan luas lahan sawah yang terjadi tahun 2010 sampai tahun 2015 disebabkan maraknya konversi lahan sawah menjadi tanaman perkebunan. Hal ini terlihat dari penambahan luas areal perkebunan kelapa sawit rakyat dari 15.312 hektar pada tahun 2010 menjadi 29.002 hektar pada tahun 2015. Penambahan luas tanaman ini berasal dari perubahan fungsi pada beberapa tipe penggunaan lahan, seperti lahan sawah (3.861 hektar), lahan pekarangan (2.535 hektar), tegalan/kebun (2.597 hektar), kawasan hutan (5.587 hektar), dan penggunaan lain-lain (4.582 hektar

Perubahan penggunaan lahan dari fungsi awalnya menjadi fungsi baru dapat dikatakan sebagai bentuk konversi lahan. Demikian juga halnya dengan lahan sawah, konversi berpengaruh negatif bagi lahan sawah jika terjadi penurunan luas lahan dan sebaliknya berpengaruh positif jika terjadi penambahan luas lahan sawah. Pencetakan sawah baru merupakan konversi yang berdampak positif terhadap luas lahan sawah dan konversi lahan sawah ke penggunaan selain sawah berdampak negatif terhadap luas lahan sawah dalam arti terjadi penurunan luas lahan.

Pola perubahan fungsi lahan sawah yang umumnya dilakukan oleh petani pemilik adalah dengan membiarkan lahannya terlantar dan menjadi semak belukar. Selain itu, juga terdapat pola perubahan fungsi lahan sawah secara langsung. Beberapa alasan dijadikan penyebab penelantaran lahan sawah ini, seperti air irigasi yang kurang, produktivitas lahan yang rendah, tenaga kerja keluarga kurang. Kondisi ini memberikan pembenaran kepada pemilik lahan untuk melakukan konversi, menurut mereka lebih baik lahan yang ada ditanami kelapa sawit daripada tidak dimanfaatkan.

Analisis land rent terbentuknya perkebunan kelapa sawit rakyat dari proses konversi lahan sawah merupakan keputusan yang revolusioner yang dipilih petani. Kondisi ini didorong oleh pengelolaan usahatani padi yang cenderung semakin sulit dan keuntungan yang semakin rendah. Belajar dari pengelaman petani lainnya yang memiliki kebun kelapa sawit, dimana tanaman kelapa sawit pengelolaannya lebih mudah, proses produksi cepat, dan pemasarannya juga mudah menimbulkan keinginan petani sawah untuk ikut menanam kelapa sawit. Diperkirakan motif dibalik keputusan petani ini adalah keuntungan dari usahatani kelapa sawit yang lebih tinggi dari padi sawah, sehingga untuk dapat mengendalikan terjadinya konversi lahan sawah secara lebih luas perlu dilihat lebih dalam tentang pengelolaan usahatani padi sawah dan kelapa sawit, terutama aspek ekonomis dari segi penerimaan, biaya dan nilai rente lahan dari pengelolaan kedua komoditas tersebut.


KESIMPULAN

1)    Laju konversi lahan sawah terluas di Kabupaten Bengkulu Selatan berlangsung pada tahun 2010 sampai 2015 mencapai 4.022 hektar.

1)    Hasil analisis diperoleh nilai land rent dari usahatani padi sawah dengan pola tanam Padi-Padi sebesar Rp 9.826.601/ hektar/ tahun dan untuk pola Padi-Padi-Palawija sebesar Rp 13.658.440/ hektar/ tahun. Nilai land rent rata-rata lahan sawah dari kedua pola tanam sebesar Rp 11.571.319/ hektar/ tahun. Berdasarkan nilai land rent dari dari aktivitas usahatani kedua komoditas diperoleh indeks tingkat kesejahteraan petani sebesar 0,58 untuk usahatani padi dan 0,78 untuk kelapa sawit, artinya pengelolaan masing-masing komoditas pada luasan 1 hektar belum mampu mensejahterakan petani.

1)  Faktor pendorong (push factor) konversi lahan sawah menjadi kebun kelapa sawit adalah kendala irigasi,resiko usahatani padi sawah, dan jumlah tenaga kerja keluarga.


DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2009. Provinsi Bengkulu dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu

Badan Pusat Statistik. 2010. Luas Lahan Menurut penggunaannya di Provinsi Bengkulu.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. Badan Pusat Statistik. 2011. Luas Lahan Menurut   penggunaannya di Provinsi Bengkulu. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS MANFAAT PEMBANGUNAN BENDUNGAN DAN IRIGASI TERHADAP KETERSEDIAAN AIR SAWAH BAGI PETANI DI DESA SUNGAI IPUH KABUPATEN MUKOMUKO

Teknologi Mesin Pertanian Rice Transplanter Inovasi Pembagunan Pertanian Di Desa Tapak Siring Kecamatan Sukau Kabupaten Lampung barat

PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI PHT PADI SAWAH DENGAN MEMANFAATKAN AGENSIA HAYATI DALAM UPAYA PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KELURAHAN SEMARANG KOTA BENGKULU