PENGEMBANGAN VARIETAS UNGUL BARU PADA LAHAN RAWA PASANG SURUT DI PROVINSI BENGKULU
Syifa Rohadatul Hasna (E1D021007)
PENDAHULUAN
Kota Bengkulu sebagai salah satu wilayah yang
berada di pesisir pantai dan juga merupakan ibukota Provinsi Bengkulu memberikan
pengaruh yang besar bagi aktivitas perekonomian Provinsi Bengkulu. Dengan
posisi wilayah pesisir pantai Kota Bengkulu, maka subsektor perikanan atau
kelautan mengunggul dari subsektor lainnya dalam memberikan sumbangsih bagi
pendapatan daerah. Namun, subsektor tersebut belum tentu dapat menjadi basis
subsektor unggulan bagi sektor pertanian di Kota Bengkulu.
Wilayah rawa
pasang surut air
asin/payau merupakan bagian
dari wilayah yang berhubungan langsung dengan laut lepas
yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Subagyo, 2006). Pemanfaatan lahan
rawa pasang surut di Provinsi Bengkulu masih sangat
terbatas akibat keterbatasan
teknologi dan varietas yang digunakan. Untuk mengatasi masalah tersebut
di atas maka diperlukan paket teknologi dan varietas yang tahan terhadap
resapan atau cekaman
air laut. Keterbatasan lahan
pantai yang berpasir diperlukan dukungan pola usaha tani yang optimal agar
kualitas maupun kuantitas produksi pertanian yang dihasilkan petani meningkat.
Melalui pola usaha tani yang tepat dan optimal diharapkan dapat meningkatkan
tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir serta mengupayakan perbaikan kondisi
lahan sekaligus keseimbangan alam.
METODE
PENULISAN
Penulisan
ini menggunakan metode deskriptif dimana metode deskriptif itu sendiri
merupakan metode yang digunakan untuk menggambarkan suatu informasi yang sedang
berlangsung, bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang terjadi sebagaimana
mestinya pada saat pengamatan dilakukan dan penulis dapat menyimpulkan dengan
menggunakan berbagai sumber atau literatur yang digunakan.
PEMBAHASAN
Luas lahan pasang surut di Indonesia diperkirakan 24,7 juta ha yang sebagian besar terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Dari total luas lahan pasang surut tersebut, 9,53 juta ha diantaranya berpotensi dikembangkan untuk pertanian (Badan Litbang Pertanian, 2007). Di Provinsi Bengkulu luas lahan rawa masih cukup luas diperkirakan 12.411 ha, yang terdiri dari rawa lebak sekitar 11.609 ha dan rawa pasang surutnya sekitar 802 ha, yang mencakup Kabupaten Seluma, Mukomuko, Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah (BPS Provinsi Bengkulu, 2010). Pemanfaatan lahan rawa pasang surut untuk usaha tani padi membutuhkan ketersediaan varietas unggul yang mampu beradaptasi dengan baik pada lahan tersebut. Pengembangan budidaya padi juga menghadapi hambatan berupa perubahan iklim global.
Perubahan
iklim global mengakibatkan adanya
pergeseran musim serta
terjadinya iklim yang
ekstrim, seperti terjadi kekeringan dan
kebanjiran. Untuk itu
diperlukan varietas padi
yang toleran terhadap
kondisi iklim yang ekstrim
tersebut. Inovasi teknologi
Varietas Unggul Baru (VUB)
untuk antisipasi perubahan iklim antara lain Inpara 1 sampai
dengan Inpara 5 (BB Padi, 2010). Salah
satu lahan rawa
pasang surut yang
sering mendapat resapan
air laut yaitu
di Kelurahan Rawa Makmur,
Kota Bengkulu. Pemanfaatan
lahan tersebut masih
sangat terbatas akibat keterbatasan teknologi dan varietas
yang digunakan. Pada umumnya varietas
yang digunakan adalah varietas padi
khusus untuk lahan
sawah seperti Ciherang
dan Mekongga. Sehingga
petani sering mengalami gagal
panen bahkan gagal tanam akibat adanya resapan/rendapan air laut. Akibat
varietas yang digunakan tidak
tahan air laut
ditambah lagi tidak
adanya hujan yang
datang untuk menetralisirnya. Petani
mengalami kerugian dengan
biaya yang dikeluarkannya.
KESIMPULAN
Dari
pembangunan pertanian dengan adanya varietas unggul baru pada lahan rawa pasang
surut ini diharapkan dapat membantu usaha
tani padi yang membutuhkan ketersediaan varietas unggul yang mampu beradaptasi
dengan baik yang menghadapi
hambatan berupa perubahan iklim global. Perubahan iklim global yang mengakibatkan adanya pergeseran musim serta terjadinya iklim yang ekstrim, seperti terjadi kekeringan dan
kebanjiran.
SARAN
Kebijakan
pemerintah pada subsektor ini perlu ditingkatkan karena berpeluang untuk
berkembang dan memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan daerah.
BB Padi. 2010. Inovasi
Varietas Unggul Padi
Rawa Dalam Bank Pengetahuan Tanaman
Pangan Indonesia. Balai Besar
Penelitian
Tanaman Padi.
Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Badan
Litbang Pertanian. 2007. Pengelolaan Tanaman
Terpadu (PTT) Padi
Lahan Rawa Pasang Surut.Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Komentar
Posting Komentar