Perkembangan Pembangunan Berbagai Sektor Pertanian Di Wilayah Nusa Tenggara Timur ( NTT)

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN  BERBAGAI SEKTOR PERTANIAN DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

                                                                  

 

Oleh: Emerensiana Diwa

Z1K022029

 

 

 

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2022

 

 

 

Daftar Isi

I           COVER……………………………………………………………………….. 1

II         DAFTAR ISI ………………………………………………………………….2

BAB 1 PENDAHULUAN ……………………………………………………………3

1.1  Latar Belakang …………………………………………………………….3

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………...4

            2.1 Pertanian…………………………………………………………………..4

            2.2 Perkembangan Pertanian………………………………………………….4

            2.3 Sub Sektor Pertanian ……………………………………………………..5

                        2.3.1 Sektor Perkebunan……………………………………………...5

                        2.3.2 Sektor Peternakan………………………………………………6

                        2.3.3 Ketahanan Pangan ……………………………………………..6

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………..  7

 


 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan di Nusa Tenggara

Timur (NTT), karena memberikan kontribusi yang besar terhadap PDRB NTT

atas dasar harga konstan sebesar 39,6%, yang terdiri dari kontribusi subsektor

tanaman pangan 19,87%, tanaman perkebunan 4,51%, peternakan 11,26%,

kehutanan 0,26% dan perikanan 3,73%. Hingga saat ini, setidaknya terdapat

sebanyak 1.675.273 (73,54 %) dari 2.278.031 orang yang bekerja. Oleh karena itu,

pembangunan pertanian sangat berperan penting dalam perekonomian di nusa

tenggara timur yaitu sebagai pembentukan kapital, penyediaan bahan pangan,

bahan baku industri, pakan dan bioenergi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa

negara, sumber pendapatan serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani

yang ramah lingkungan. Pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan

pendapatan dan kesejahteraan petani, mewujudkan swasembada pangan

berkelanjutan, dan meningkatkan penerimaan devisa (Kementerian Pertanian,

2015).

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dari hari ke hari semakin

meningkat dan terus berkembang luas mulai dari daerah perkotaan sampai ke pelosok

daerah pedesaan. Dunia teknologi informasi dan komunikasi menawarkan dan

memberikan banyak kemudahan dalam membantu memperlancar segala aktivitas

manusia di segala bidang termasuk dalam bidang pertanian. Petani dapat

memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengetahui berbagai

informasi tentang dunia pertanian, cara budidaya tanaman yang baik, sampai kepada

cara mengatasi dan menanggulangi berbagai jenis penyakit tanaman.

Selain petani, teknologi informasi dan komunikasi juga bisa dimaanfaatkan oleh

para penyuluh pertanian untuk berbagi informasi seputar pertanian tanpa harus turun

langsung ke lapangan sehingga dapat meningkatkan keberdayaan petani melalui

penyiapan informasi pertanian yang tepat waktu dan relevan kepada petani untuk

mendukung proses pengambilan keputusan berusaha tani untuk meningkatkan

produktivitasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pertanian

Pembangunan di bidang pertanian ditujukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian sekaligus mempertinggi pendapatan petani dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Usaha pokok pembangunan pertanian secara terus menerus ditingkatkan melalui kegiatan intensifikasi, ekstensifikasi, dan rehabilitasi yang diharapkan mampu menjamin efisiensi dan efektifitas pelaksanaan pembangunan pertanian, sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat. Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan usaha disektor pertanian, perkebunan dan juga peternakan. Dengan memiliki lahan yang luas dan tanah yang subur serta didukung oleh kondisi iklim/cuaca yang baik, NTT potensial untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian yang besar khususnya komoditas tanaman pangan dan holtikultura serta pengembangan ternak. Hingga saat ini, tingkat produksi dan produktivitas disektor pertanian, perkebunan dan peternakan di Nusa Tenggara Timur cukup tinggi. Hal ini memicu pemerintah daerah untuk terus melakukan upaya peningkatan produksi para petani melalui penyediaan sarana dan prasarana pertanian yang berbasis teknologi, peningkatan kualitas sumber daya (skill) petani seperti meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi, kewirausahaan dan manajemen usaha tani melalui penyuluhan pertanian, dan pengembangan sistem pendidikan dibidang pertanian yang menarik minat dan bakat masyarakat terutama generasi muda.

 

2.2  Pengembangan Pertanian

Luas wilayah daratan di NTT secara keseluruhan pada tahun 2021  adalah 4,93 juta ha dengan komposisi lahan sawah seluas 209 ribu ha, lahan bukan sawah seluas 3,58 juta ha dan lahan bukan pertanian seluas 941 ribu ha. Pemanfaatan lahan pertanian di NTT meliputi lahan sawah dan lahan kering, lahan sawah terdiri dari sawah irigasi dan sawah tadah hujan. Pemanfaatan lahan sawah irigasi seluas 121,8 ribu ha dan sawah tadah hujan seluas 87,2 ribu ha. Pada tahun 2021, sektor pertanian (termasuk peternakan, kehutanan dan perikanan) telah memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di NTT, yaitu sebesar 28,85 persen. Sebagian besar kontribusi ini berasal dari sub-sektor tanaman pangan (9,42 persen), peternakan (9,05 persen), perikanan (4,64 persen), tanaman hortikultura (2,67 persen), tanaman perkebunan (2,42 persen), jasa pertanian dan perburuan (0,52 persen), kehutanan dan penebangan kayu (0,13 persen). Laju pertumbuhan sektor pertanian mencapai 2,02 persen pada tahun 2011 dan 3,59 persen pada tahun 2021. Hal ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan dan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang dinamis. Komoditas pangan pokok di NTT sebagian besar adalah jagung dan umbi-umbian, yang merupakan pangan pokok sebagian besar penduduk NTT. Kebijakan pencapaian Swasembada Pangan Nasional tahun 2015-2019, khususnya pencapaian swasembada tiga komoditas strategis melalui Upaya Khusus mendukung peningkatan produksi Padi, Jagung dan Kedelai (UPSUS PAJALE). Pemerintah NTT berupaya keras meningkatkan produksi pertanian dan memberikan berbagai program untuk membantu para petani. Data Statistik Pertanian NTT menunjukkan bahwa penduduk yang bekerja di sektor pertanian cenderung berfluktuasi dimana pada periode Agustus 2020 sebesar 64,89 persen menurun menjadi 60,77 persen pada Agustus 2021.   Hal ini tidak mengherankan karena perekonomian yang tumbuh cepat cenderung menyebabkan pergeseran lapangan pekerjaan dari sektor pertanian dan pertambangan ke sektor industri, konstruksi, perdagangan, transportasi, dan jasa-jasa keuangan. Sektor pertanian juga memiliki pertumbuhan pendapatan yang terbatas sehingga tenaga kerja muda memilih untuk bekerja di kota dan bahkan ke negara lain (TKI/TKW) daripada bekerja di sektor pertanian.

 

2.3  sub- sektor Pertanian di NTT

Sub-sektor utama dari sektor pertanian di NTT meliputi perkebunan, tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan. Pada tahun 2019, produksi utama perkebunan NTT terdiri dari kelapa dengan luas perkebunan sebesar 140 ribu hektar dan hasil produksi sebesar 68 ribu ton yang kemudian diikuti dengan jambu mete dengan luas areal perkebunan sebesar 168,7 ribu hektar dan hasil produksi sebesar 43,9 ribu ton. Sedangkan hasil produksi perkebunan lainnya adalah kemiri (23,8 ribu ton), kopi (21,7 ton), kakao (15,1 ribu ton), pinang (5,3 ribu ton), dan cengkeh (2,6 ton). Disamping jagung, beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat NTT. Luas panen padi pada tahun 2019 adalah 257 ribu hektar dan produksi mencapai 647 ribu ton dari luas tanam sebesar 308,5 ribu hektar. Produksi padi di NTT dalam kurun waktu 2014 – 2018 mengalami peningkatan secara signifikan yaitu sebesar 49 persen (dari 555.493 ton menjadi 825.728 ton). Pada tahun 2014, kontribusi produksi padi NTT sebesar 0,84 persen terhadap nasional dan meningkat di tahun 2018 menjadi 1,17 persen.

 

2.3.1        Perkebunan

Hasil komoditi perkebunan merupakan salah satu komoditas unggulan di berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur, karena selain merupakan salah satu penyumbang bagi pendapatan setiap  daerah, hasil perkebunan juga memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat khususnya pendapatan para petani. Hasil perkebunan yang menjadi komoditas unggulan daerah di NTT beraneka ragam, antara lain Kopi, Kemiri, Kakao dan masih banyak lainnya. Produksi dan produktivitas komoditi perkebunan di  NTT cukup tinggi.

2.3.2        Peternakan

Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang cukup potensial untuk pengembangan usaha peternakan karena selain memiliki lahan yang luas, juga memiliki beranekaragam tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Populasi ternak yang ada di NTT terdiri dari ternak besar seperti sapi, kerbau, kuda dan ternak kecil seperti babi, kambing, domba dan jenis unggas.

 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, babi menjadi populasi hewan ternak paling banyak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlahnya mencapai 2.694.830 ekor pada 2020, naik 19% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2.266.222 ekor. Selain populasinya, daging babi yang diproduksi di NTT paling banyak dibandingkan hewan ternak lainnya. Tercatat, produksi daging babi di NTT mencapai 47 juta kilogram (kg) pada tahun lalu.

 Berdasarkan wilayah, populasi babi terbanyak di provinsi tersebut berada di Kabupaten Kupang, yakni 525.445 ekor pada 2020. Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Ngada berada di posisi selanjutnya dengan populasi babi masing-masing sebesar 240.887 ekor dan 205.239 ekor.

Adapun, populasi sapi potong di NTT tercatat sebesar 1.188.982 ekor pada 2020, menjadi yang terbanyak kedua. Populasi kambing di NTT sebanyak 999.730 ekor. Populasi kerbau di NTT sebanyak 189.972 ekor. Ada pula 115.129 kuda , Kemudian, populasi domba di NTT sebanyak 76.532 ekor. Sementara, populasi sapi perah di provinsi tersebut sebanyak 33 ekor.

2.3.3        Ketahana Pangan

Laju pertumbuhan penduduk di NTT dari tahun 2015 ke 2020 mencapai lebih dari 1,60 persen, sementara pertumbuhan produksi tanaman pangan dalam satu dekade terakhir mencapai 3,69 persen untuk padi dan hampir mencapai 2,58 persen untuk jagung. Walaupun demikian, fluktuasi curah hujan, terus berkurangnya lahan pertanian yang tersedia merupakan faktor risiko utama sering terjadinya kekurangan pangan di beberapa wilayah. Provinsi NTT adalah wilayah kering dengan jumlah bulan kering yang lebih banyak daripada bulan basah yang sering mengalami anomali menyebabkan musim kering yang parah setiap tahun. Musim kemarau yang panjang, ditambah dengan rendahnya irigasi pertanian, menyebabkan petani memiliki risiko kekeringan yang tinggi dan berulang.

Namun di lain pihak, konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian juga meningkat tajam dari tahun ke tahun khususnya di wilayah ibukota kabupaten, bahkan banyak lahan tanaman pangan produktif berubah menjadi lahan permukiman. Menurunnya luasan lahan pertanian mengakibatkan rata-rata pemilikan lahan pertanian menyempit menjadi rata-rata di bawah 0,3 hektar per rumah tangga petani . Dengan luas lahan usaha tani seperti ini, meski produktivitas per luas lahan tinggi, hal ini merupakan tantangan besar dalam mengamankan produksi tanaman pangan untuk mendukung ketahanan pangan secara lebih luas. Tantangan lain dalam ketersediaan pangan adalah belum ada industri pengolahan pangan lokal di NTT. Pangan lokal yang memiliki nilai gizi yang tinggi dapat diolah untuk meningkatkan nilai gizi dan ekonomi.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Kusmiadi, E. (2014). Pengertian dan Sejarah Perkembangan Pertanian. Pengantar Ilmu Pertanian, 1-28.

Sudalmi, E. S. (2010). Pembangunan pertanian berkelanjutan. INNOFARM: Jurnal Inovasi Pertanian, 9(2).

Zuhdi, F. (2021). Analisis Peranan Sektor Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur. AGRIMOR, 6(1), 34-41.

Aini, A. O. N. (2021). Analisis Strategi Pengembangan Komoditas Perkebunan Unggulan (Studi Kasus Desa Wolowea Timur, Nusa Tenggara Timur) (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

M. D. (2018). Pengelolaan Sub Sektor Peternakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Melalui Sistem Pertanian yang Terpadu dan Berkelanjutan.

Badan Pusat Statistik 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS MANFAAT PEMBANGUNAN BENDUNGAN DAN IRIGASI TERHADAP KETERSEDIAAN AIR SAWAH BAGI PETANI DI DESA SUNGAI IPUH KABUPATEN MUKOMUKO

Teknologi Mesin Pertanian Rice Transplanter Inovasi Pembagunan Pertanian Di Desa Tapak Siring Kecamatan Sukau Kabupaten Lampung barat

PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI PHT PADI SAWAH DENGAN MEMANFAATKAN AGENSIA HAYATI DALAM UPAYA PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KELURAHAN SEMARANG KOTA BENGKULU