PERLUNYA MELAKUKAN REFLANTING (PENANAMAN KEMBALI) KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO
Disusun oleh: Fariska Dwi Karlindah (E1D020035)
PENDAHULUAN
pendahuluan
Salah satu kegiatan yang penting dalam teknik budidaya adalah peremajaan. Program peremajaan tanaman harus disiapkan dengan baik, khususnya pada perkebunan plasma. Menurut Hutasoit et al. (2015), persepsi petani terhadap kegiatan peremajaan sangat baik. Hal ini berimplikasi pada tingginya tingkat kesiapan petani untuk melakukan peremajaan kelapa sawit saat umur tanaman kelapa sawit sudah tidak produktif lagi. Petani telah mengetahui pentingnya peremajaan untuk menjaga keberlanjutan usaha perkebunan kelapa sawit. Petani juga telah memperoleh berbagai pelatihan mengenai pentingnya kegiatan peremajaan bagi keberlanjutan usaha perkebunan kelapa sawit yang lestari (Wibowo, 2017).
Pasar industri kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang baik dan berkelanjutan dapat dicapai apabila perusahaan memiliki stabilitas di dalam produksinya. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan produksi atau stabilitas produksi, teknik dalam pembudidayaan kelapa sawit menjadi penting. Menurut Setyamidjaja (2006), teknik budidaya kelapa sawit terdiri dari beberapa tahap, antara lain pembibitan, pembukaan lahan, rancangan kebun, penanaman, tanaman penutup tanah, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM), dan peremajaan (Wibowo, 2017).
1.2 Tujuan
1. Mengetahui tujuan dilakukan peremajaan terhadap tanaman kelapa sawit
2. Dapat menunjukan proses peremajaan tanaman kelapa sawit
3. Mengetahui manfaat dan fungsi dari peremajaan kelapa sawit
1.3 Manfaat
1. Mengetahui tujuan dilakukan peremajaan terhadap tanaman kelapa sawit
2. Mahasiswa mengetahui proses peremajaan kelapa sawit
3. Mahasiswa mengetahui manfaat dan fungsi dari peremajaan kelapa sawit
BAB II
PEMBAHASAN
Pertimbangan utama dilakukan peremajaan kelapa sawit adalah karena umur tanaman yang lebih dari umur ekonomis atau sekitar 25 tahun, tanaman tua dengan produktivitas rendah atau dibawah 13 ton TBS/Ha/Tahun, sehingga kurang menguntungkan. Salah satu metode peremajaan tanaman yang memungkinkan masih menerima penghasilan selama masa peremajaan adalah dengan sistem underplanting, yaitu teknik peremajaan dengan peracunan serta menanam tanaman baru diantara tanaman tua (Atman. 2007).
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada areal peremajaan kebun (sawit) adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan penanaman
Membuat rencana dan desain kebun yang akan dikelola dengan mempertimbangkan: lingkup pekerjaan, ketersediaan mesin-mesin dan peralatan yang memadai, waktu pelaksanaan dan biaya (Hadi, 2004).
2. Membersihkan Bagian Tanaman Terserang Ganoderma
Pada areal yang terserang Ganoderma, perlu dilakukan sensus batang-batang pohon yang terserang untuk kemudian ditebang dan dibersihkan dari areal tanaman baru atau di eradikasi. Lubang bekas tanaman terserang diberikan Trichoderma (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2009).
3. Membuat Pancang Tanam
Pancang jalur dibuat untuk menentukan jalur tanaman baru, jaringan jalan, jalur pemanenan dan saluran drainase. Untuk meminimalkan resiko infeksi serangan Ganoderma, jalur tanaman baru diletakkan di antara jalur tanaman lama (Atman, 2007).
4. Pembuatan Jalan dan Saluran Drainase
Pembuatan jalan (saluran) pengumpulan/pengawasan atausaluran drainase sekunder dapat dilakukan sebelum atau segera setelah penumbangan pohon sawit lama. Apabila saluran lama tidak sesuai dengan letak saluran yang baru, maka saluran lama perlu ditutup dengan tanah dan saluran baru dibuat sesuai dengan letak pancang jalur. Apabila saluran lama masih sesuai dengan letak saluran baru, maka saluran tersebut digali kembali sedalam saluran baru. Di areal datar, saluran lapangan dibuat di antara 4 atau 8 jalur tanaman, sedangkan saluran koleksi ditempatkan di tengah 2 saluran lapangan (Tim Penyusun SPO, 2007).
5. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam untuk kelapa sawit dibuat dengan ukuran panjang x lebar x kedalaman lubang tanam (60 cm x 60 cm x 60 cm). Tetapi ada juga yang berukuran 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada saat menggali, tanah atas diletakkan di sebelah utara dan tanah bawah diletakkan di sebelah selatan lubang. Ajir ditancapkan di samping lubang dan bila lubang telah selesai dibuat, ajir ditancapkan lagi di tengah-tengah lubang (Setyamidjaja 2006). Menurut Pahan (2012), pembuatan lubang tanam dapat dilakukan secara manual dan mekanis dengan menggunakan alat post hole digger (PHD). Sistem tanam yang dianjurkan yaitu membuat lubang tanam satu bulan sebelum masa tanam. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kemasaman tanah dan mengontrol ukuran lubang yang dibuat. Pengontrolan ukuran ini perlu dilakukan karena ukuran lubang tanam merupakan salah satu aspek penting dalam perkebunan kelapa sawit (Wibowo, 2017).
6. Penumbangan, Pecincangan dan Merumpuk Pokok
Kegiatan penumbangan, pencincangan, dan merumpuk pokok merupakan suatu rangkaian yang tidak terpisahkan karena ketiga kegiatan tersebut dilakukan langsung secara berurutan di lapangan. Penumbangan pokok dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah kegiatan pencincangan batang kelapa sawit. Kegiatan pencincangan dilakukan langsung setelah pokok kelapa sawit tumbang dengan menggunakan bucket pisau yang telah dipasang pada bucket excavator. Pencincangan ini bertujuan untuk mempercepat pelapukan pokok sawit dan menghindari perkembangbiakan Oryctes Rhinoceros pada pokok yang sudah mati. Pencincangan dilakukan dari bagian bonggol akar hingga ujung pelepah. Batang kelapa sawit yang telah dicincang akan disusun rapi sesuai dengan pancang rumpuk yang telah ditentukan sebelumnya. Rumpukan ini bertujuan untuk merapikan baris tanaman, sebagai mulsa tanaman, dan bermanfaat sebagai bahan organik yang dapat menyuburkan tanaman (Wibowo 2017).
7. Membersihkan Jalur Tanam
Hasil rencekan ditempatkan (dirumpuk) di antara jalur tanaman, dengan jarak 1 meter di kiri kanan pancang. Dengan demikian diperoleh 2 meter jalur yang bersih dari potongan kayu-kayuan (Hadi, 2004).
8. Deboling
Deboling adalah kegiatan pembongkaran sisa bonggol termasuk perakaran lama pokok kelapa sawit yang telah ditumbang menggunakan excavator. Ukuran penggalian lubang adalah 2 m x 2 m x 1 m. Kegiatan ini dilakukan 1-2 minggu setelah kegiatan pencincangan selesai. Bekas galian dibiarkan terbuka selama 2 minggu dengan tujuan untuk mengangkat perakaran ke permukaan dan mengurangi potensi tumbuhnya jamur Ganoderma. Prestasi excavator dalam kegiatan ini 200 lubang/unit/hari dengan jam kerja 10 HM (Wibowo, 2017).
9. Pembuatan Teras
Pada areal yang bertopografi bergelombang atau berbukit, perlu dilakukan terasering dengan mengikuti teknik konservasi tanah dan air. Pada lahan dengan tingkat kelerengan lebih dari 10o, perlu dibuat teras tanaman dengan lebar 4 m, kecuali pada tanah yang memiliki lapisan tanah dangkal dihindari pemotongan sampai ke bahan batuan induk. Teras harus mengikuti garis kontur. Pada lahan dengan tingkat kelerengan antara 5 sampai 10o, teras harus dibuat dengan lebar antar teras sekitar 30 m (Tim Penyusun SPO, 2007).
10. Peracunan
Peracunan dilakukan untuk mematikan tanaman tua yang belum ditumbang. Peracunan pada tahun pertama dilakukan pada setengah populasi sisa tanaman yang belum ditumbangkan dan pada tahun kedua peracunan dilakukan pada sisa tanaman tua yang masih ada. Setelah tanaman mati dan mengering maka dilakukan penumbangan, perencekan dan merumpuk seperti keterangan yang sudah ada di awal (Atman, 2007).
A. System Replanting dan Cara Tanam Ulang
1. Dengan injection
Tahap yang dilakukan dengan sistem injection sebagai berikut :
1) Tanaman sawit dilakukan pengeboran pada bagian batang dengan ketinggian dari permukaan tanah ± 1 Mtr dengan kedalaman 2/3 dari penampang melintang;
2) Sudut pengeboran 450;
3) Bahan yang digunakan Gramoxone sebanyak 75 Cc dan rumput kering untuk penutup lubang dalam setiap pokok;
4) Cara tanam ulang disamping tanaman lama dengan jarak ± 2 Mtr dalam barisan tanaman.
2. Dengan System Alat Berat (Excavator/Bull Dozer)
Gambar 2. Mesin Peremajaan Kelapa Sawit
Tahap yang dilakukan dengan sistem alat berat sebagai berikut :
1) Penumbangan menggunakan Excavator arah tumbangan ke arah dalam barisan;
2) Dapat langsung diracik/cacah;
3) Dapat langsung disusun/dirumpuk dalam barisan;
4) Cara tanam ulang untuk tanaman baru disamping rumpukan dengan jarak tanam ± 2 Mtr.
3. Peremajaan Ulang Dengan System Gergaji Rantai
Gambar 3. Peremajaan Ulang Dengan System Gergaji Rantai
Tahap yang dilakukan dengan sistem sistem gergaji rantai sebagai berikut :
1) Menebang pohon sawit dengan memotong batang membentuk segi tiga dengan jarak dari permukaan tanah ± 80 cm sesuai arah dalam barisan;
2) Setelah penebangan perlu dilakukan pemotongan pelepah disusun dalam barisan sekaligus merapikan batangnya;
3) Cara reflanting untuk tanaman baru disamping rumpukan dengan jarak tanam ± 2 Mtr.
4. Pertimbangan dalam Peremajaan
Pertimbangan dalam melakukan peremajaan terhadap pohon kelapa sawit yaitu:
1) Umur tanaman sudah tua > 25 tahun;
2) Produktivitas rendah sehingga tidak ekonomis (<10 ton TBS/ha/th);
3) Bahan tanaman tidak unggul (illegitim);
4) Kesulitan panen (tinggi tanaman >12 meter);
5) Kerapatan tanaman rendah ( <80 phn/ha).
D. Keuntungan dan Kekurangan Peremajaan Kelapa Sawit
1. Keuntungan
1) Meningkatkan produktivitas kelapa sawit;
2) Meningkatkan pendapatan operasional usaha tani;
3) Menghasilkan tanaman baru yang muda dengan produksi yang tinggi.
2. Kekurangan
1) Mengeluarkan biaya yang cukup besar dalam proses peremajaan;
2) Apabila dilakukan secara serentak akan mengakibatkan berhentinya proses produksi di pabrik, maka dari itu sebaiknya di lakukan pada sebagian areal terlebih dahulu dan secara bergantian.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Peremajaan merupakan sebuah proses yang paling penting dalam usaha budidaya tanaman, khususnya tanaman kelapa sawit. Peremajaan dilakukan biasanya guna mengganti tanaman yang sudah cukup tua (biasanya sudah lebih dari 25 tahun) dengan tanaman yang baru yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit dan juga untuk menambah nilai ekonomis karena mendapatkan hasil dari tanaman yang masih muda. Kegiatan peremajaan meliputi menumbangkan pohon, mencincang, deboling, dan lain sebagainya samapi kepada menanam tanaman kelapa sawit yang baru.
3.2 SARAN
Melakukan reflanting tanaman kelapa sawit sangat kondisional tergantung pada produktivitas tanaman. Oleh karena itu, reflanting sangat diperlukan jikalau usia tanaman sudah tidak produktivitas. Dengan tujuan agar mmeningkatkan produktivitas dari tanaman kelapa sawit itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Atman. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya kelapa sawit dan peremajaan Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Hadi, N. M., 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Karya Nusa, Yogyakarta.
Iman. 2009. Pembibitan kelapa sawit rakyat (Elaeis guineensis Jacq). http://binatani.blogspot.com.(23 Maret 2011).
Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat, Sumatra Utara.
Minamas Plantation. 2013. Standard Operating Procedure: Referensi Manual Agronomi Penanaman Kelapa Sawit. Minamas Plantation, ID.
Pahan, Iyung, 2009. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pratama, D. 2012. Morfologi Kelapa Sawit. Http://morfologi tanaman kelapa sawit.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2009. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Ganodermaboninense) dan Pengendaliannya. http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/psawit06.pdf.
Sastrosayono, S., 2007. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Sunarko, 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Sunarko. 2014. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kebun Kelapa Sawit. Jakarta (ID): Agromedia Pustaka.
Susanto, A., Purba, R.Y., Utomo, C. 2006. Penyakit-Penyakit pada Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, ID.
Syarif, HD. 2009. Sejarah kelapa sawit indonesia. http://sawitkita.blogspot.com.
Tim Penyusun SPO, 2007. Standar Prosedur Operasi (SPO). PTPN4 (Untuk Kalangan Sendiri).
Wibowo, Wisnu Hari dan Ahmad Junaedi. 2017. Peremajaan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Seruyan Estate, Minamas Plantation Group, Seruyan, Kalimantan Tengah. Jurnal Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017). IPB : Bogor.
Komentar
Posting Komentar